NASIONALISME
ADALAH BHINNEKA TUNGGAL IKA.

Apa
yang disebut Nasionalisme? Pasti banyak yang telah mengetahuinya, secara
etimologi maupun terminologi. Namun untuk kali ini, janganlah kita berbicara
dari sudut itu, marilah kita berbicara dari sudut sana, yang semakin koyak setiap harinya:dari sudut Toleransi, dari
sudut Bhinneka Tunggal Ika, dari sudut keberagaman.
Akhir-akhir
ini, Indonesia semakin kehilangan sila ke-3 Pancasilanya: Persatuan
Indonesia. Kita sudah terlalu bangga
dengan simbol Bhinneka Tunggal Ika, tapi ajaran-ajarannya banyak yang kita
lupakan. Kita melupakan banyak sejarah yang telah ditorehkan Bangsa ini tentang
keberagaman yang seharusnya menjadi tonggak dasar persatuan.
Kita
telah mengetahui banyak hal seperti tidak menerima keberagaman, contoh kecilnya
di kampus kita sendiri, JIL dilarang masuk ke kampus. Juga di kota yang kini
kita tinggali:Bandung, ternyata menjadi salah satu dari 10 kota paling tidak
toleran di Indonesia menurut penelitian Setera Institute. Atau malah di Negara kita Indonesia yang
katanya disebut negara paling ramah didunia, ternyata saat ini tidak memperoleh
suara dari satupun bangsa Afrika di KNPI, juga kehilangan muka di Asia Afrika
saat pemilihan PSBG sebagai perwakilan negara dalam penerbangan, dan sedihnya itu dikalahkan oleh Malaysia.
Kemudian masih adakah rasa Bhinneka Tunggal Ika kita saat ini melihat dari
fenomena-fenomena tersebut? Dengan banyaknya perbedaan yang tidak memiliki satu
tujuan dan tidak menerima keberagaman? yang satu ingin NKRI, yang satu ingin
Khilafah.
Dari
fenomena tersebut, kita telah mengetahui bahwa kita menjadi lebih hobi
berteriak NKRI harga mati dari pada tersenyum kepada orang-orang yang berbeda
pemikiran dengan kita, kita lebih hobi membuat tulisan Bhinneka Tunggal Ika
besar-besaran dari pada memberikan makanan kepada tetangga yang berbeda agama.
Kita telah lupa, bahwa NKRI hidup karena keberagaman yang damai, keberagaman
yang saling bertukar pengetahuan, keberagaman yang membawa senyuman. Dan
mungkin kita juga telah lupa, bahwa Nasionalisme bukan hanya masalah Pancasila
yang selalu didengungkan setiap Upacara, tapi tentang mengamalkan
ajaran-ajarannya, bukan hanya simbolnya.
JIL
dilarang masuk Kampus mencerminkan kampus kita yang anti terhadap perbedaan
pengetahuan, anti terhadap faham yang bertentangan, anti terhadap perbedaan.
Padahal menurut Gordon Allport salah satu ciri dari orang yang matang agamanya
adalah Relasi Sosialnya hangat, mereka memberikan cinta mereka tanpa syarat,
mereka memberikan cinta mereka kepada orang-orang yang berbeda sekalipun.
Bandung
pun kini telah berubah, grup-grup media sosial penuh dengan anjuran agar tidak
keluar malam:ada geng motor, perpustakaan jalananpun dibubarkan di Bandung. Kehidupan semakin
mencekam dari hari ke hari di Bandung. Kini
sudah sedikit sekali tempat untuk bebas berbicara dan berpendapat disana.
Padahal
katanya Bandung adalah kota HAM, harusnya Hak Asasi dijunjung tinggi. Padahal
katanya Bandung Lautan Api, tapi untuk sekedar membaca bukupun kini harus
dibatasi. Padahal katanya Bandung adalah kota pemuda, namun pemuda sulit untuk
mengeluarkan pendapat yang berbeda dengan pemerintahan saat ini. Padahal
katanya pula Bandung adalah kota Asia-Afrika, yang ketika ada konperensi
tersebut orang komunis beserta orang Islam duduk dimeja yang sama dan
berdiskusi bersama, tapi kini kita yang berbeda madzhabpun sudah sangat sulit
untuk saling tersenyum.
Dan
Indonesia saat ini nyatanya tidak
dipilih oleh banyak negara Afrika.
Padahal dulu, seperti yang kita ketahui dalam sejarah, kitalah yang
mencetuskan gagasan Asia-Afrika. Kitalah yang mencetuskan bersama-sama dalam
perbedaan, bersama-sama dalam mengalahkan musuh-musuh dunia. Mungkin hari ini,
semangat konperensi Asia-Afrika telah surut. Dan mungkin itu semua karena kini
Indonesia bukan lagi membawa gagasan karena Indogenisasinya (kajian kawasan
yang membawa nilai-nilai Indonesia) akan tetapi membawa proposal ke luar negeri
karena Develomentalismenya (kajian kawasan yang mementingkan Ekonomi).
Lebih
miris lagi hari ini, bahwa ternyata Indonesia tidak lagi memiliki satu tujuan
yang sama. Kelompok yang satu menginginkan adanya Khilafah, namun kelompok yang
lain menginginkan tetap bertahannya NKRI. Dan itu semua pada faktanya bukan
melahirkan jiwa heterogen yang memiliki tujuan yang sama, tapi jiwa heterogen
yang memaksa kebenaran dimasing-masing pihak.
Padahal
Ukhuwah atau persaudaraan dalam Islam terbagi menjadi 3, bukan hanya kepada
sesama orang Islam. Yaitu, Ukhuwah
Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyah, Dan Ukhuwah Basyariyah. Ukhuwah Islamiyah adalah
persudaraan antara sesama orang Islam, ukhuwah wathoniyah adalah persaudaraan
antara orang-orang dalam suatu negara, sedangkan Ukhuwah Basyariyah adalah
persaudaraan kepada seluruh manusia tidak terbatas negara maupun agama. Dan itu
membuktikan bahwa Islam sendiri memerintahkan agara kita tetap bersaudara walau
berbeda agama sekalipun.
Mungkin
saja kebanyakan dari kita lupa atau bahkan belum mengetahui bahwa teori moral
Lawrence Kohlberg tentang nilai kebaikan
moral merupakan nilai yang universal itu disanggah oleh Carol Gilligan, Elliot,
Swidder juga oleh Bapak Dekan kita. Mereka telah menyadari bahwa nilai kebaikan
moral tidak dapat dikatakan Universal, tidak dapat dianggap sama, contohnya
berciuman di tempat umum Amerika merupakan hal yang lazim, namun bagi bangsa
Indonesia itu sangat tidak etis. Itu sudah sangat menunjukan, bahwa kebaikan
itu tidak universal, tidak dapat kita samakan antara kebaikan kita di satu
tempat dan ditempat lain.
Bahkan
bapak Dekan kita meneliti tentang pandangan kebaikan antara santri NU,
Muhammadiyyah dan santri Persis. Penelitian itu menunjukan bahwa hal yang
disebut baik oleh mereka berbeda-beda. Dari penelitian itu, kita dapat
menyadari bahwa kebaikan menurut umat
Islam sendiripun berbeda, apalagi kebaikan menurut orang-orang yang berbeda
agama. Jadi sungguh ironi, jika kita sendiri, masyarakat Psikologi yang
mempelajari itu semua malah memaksakan kebenaran yang ada difikiran kita harus
diterima difikiran orang lain.
Fenomena-fenomena
tersebut harusnya menjadi renungan untuk Indonesia esok. Kita ternyata telah
banyak membuat tembok pembeda antara kita dan orang-orang lain. Dari kampus
kita sendiri yang tidak mau menerima perbedaan, Bandung yang kian memanas
dengan banyak perbedaannya, dan Indonesia yang kian tak memiliki suara didunia
karena perhatian Indonesia bukan lagi kepada bangsa-bangsa yang tengah
kesulitan, namun kepada bangsa yang beruang agar dapat meminjam uang.
Kemudian
apa yang dapat kita lakukan untuk Nasionalisme esok? Banyak sekali teman,
banyak. Tulislah, menggambarlah,
berkaryalah. Lakukan itu untuk orang-orang yang membutuhkan disekitar kita,
lakukan itu untuk bangsa kita yang tengah kekeringan persatuan ini, lakukan itu
untuk perbedaan yang mendatangkan keharmonisan, lakukan itu untuk kebaikan
seluruh bangsa dan dunia.
Ah
teman, sungguh ini sebuah opini, bukankah kebenaran itu relatif teman? Jadi
kalau engkau berbeda pendapat tentang artikel ini, janganlah cemberut dan tidak
mau mengutangiku ketika aku tidak punya uang. Marilah tetap berkawan, hajarlah
artikelku dengan artikelmu jika kau berbeda pendapat. Namun tetaplah tersenyum
ketika kita saling bertemu, tetaplah meminjamiku uang ketika aku butuh. Contohlah Sukarno dan Syahrir,
contohlah Sukarno dan Buya Hamka, mereka selalu bergandengan, walaupun juga
selalu berbeda fikiran.
Ah
ya teman, satu lagi, aku memakai subjek kita disini, maksudnya adalah aku bukan
hanya tengah menasehati engkau, tapi juga menasehati diriku. Maafkan bila
banyak dari diri ini yang juga masih sering tidak terima pada perbedaan
pendapat teman-teman. Mari kita sama-sama belajar, untuk menciptakan Indonesia
yang damai dengan perbedaan.
Karena
Nasionalisme menurut saya ialah Bhinneka Tunggal Ika dalam ajarannya, bukan
hanya dalam lambangnya. Salam persaudaraan J