Rabu, 22 Juni 2016

almarhumah Irma Bule dan cita-cita menjadi hakim



            Saya sebenarnya tidak begitu senang ketika memperbincangkan tentang wanita, entar saya di sebut feminis radikal lagi (lelah aku bang!)
            Tapi saat ini, hati saya tertarik untuk menulis tentang Almarhumah irma bule, latar belakang penulisan ini adalah karena ketika ada yang menyebut namanya, komentar yang akan saya dengar dari telinga beranting ini, ga jauh-jauh dari:
“ya Tuhan, meningalnya saja lagi goyang, gimana di akhiratnya”
“kaya ga ada pekerjaan yang lain aja”
“itu mah balesan dari Tuhan gara-gara dia mencari uang dengan jalan yang tidak diridhoi”
            Dan ini menimbulkan kesimpatian saya menaik tajam padanya.
 Beliau, dianggap wanita yang gampangan-bakal masuk neraka-dan lain-lain yang berupa penghakiman tanpa pengadilan, atau mungkin sebenarnya masyarakat kita mempunyai cita-cita hakim yang tak tercapai karena kemahalan untuk menjadi hakim.
Ya Tuhan maafkanlah suudzon hambaMu yang melewati batas ini.
Mungkin saja, kita lupa, atau malah kita tak pernah membacanya kali ya?
Dalam kitab Majalisutsaniyah diceritakan, terdapat laki-laki yang pernah zina, namun ternyata masuk Surga, terdapat perempuan yang dianggap baik oleh masyarakat namun ternyata masuk Neraka.
Ouh, betapa kita ternyata sudah tak memakai kembali jas merah kita.
Dengan pengamatan tak teliti saya, Kayanya kita ga pernah ngambil sisi positiv dari sebuah berita atau Kayanya media kita juga ga pernah memberitakan kalau mungkin saja Almarhumah itu:
1.      Ibu yang berjuang buat anak-anaknya yang berjumlah 3 orang dan masih kecil-kecil, bayangkan, 60 % warga Karawang berada di garis kemiskinan (2014) dan mungkin beliau menjadi salah satunya.
Mungkin saja sebenarnya ini adalah cara jihad beliau agar pemerintahan tau, dan mengekspos betapa miskinnya warga Kerawang bukan?sampe-sampe krupuk Mlarat yang memiliki arti miskin pun bersumber dari Kota ini lho.
Beliau itu rela berjoget walaupun udah digigit ular kobra, rela dipegang sama kake-kake tua, rela dianggep wanita murahan cuma buat uang 500  rbu. Apa ada yang mau kecuali orang yang benar-benar membutuhkan uang itu?
2.      Istri yang berusaha membantu suaminya yang hanya seorang buruh yang kesulitan mencari pekerjaan.
Di karawang, tingkat pengangguran makin tinggi sejak tahun 2009, dan itu mungkin membuat Almarhumah Irma Bule ini memutar otak untuk membantu suaminya yang kesulitan dalam mencari pekerjaan
Karena menjadi Guru saja saat ini, harus sogok sana sogok sini yang pasti membutuhkan uang banyak*ups.
3.      Penjoget yang mungkin bermimpi untuk menjadi istri pejabat.
Yang tanpa jogetpun, tanpa dianggep murahanpun, tanpa dipegang-pegang kake tuapun, tanpa menjadi TKIpun (yang menurut data, Karawang menjadi pemasok TKI terbanyak ke-7) bisa jalan-jalan keluar negeri dengan membawa tas harga puluhan jutaa, dan tidak tertarik untuk mengirim bunga kepada rakyatnya yang sedang berduka  karena kekejaman wilayahnya.
Tapi kemudian, saat saya berdiskusi tentang beliau, terdapat pertanyaan, jika memang miskin, mengapa harus menjadi seorang pelacur?
Ternyata, kebanyakan dari kita lupa, bahwa kebenaran itu selalu relatif.
Selamat jalan Kartini Karawang,
semoga anak-anak mu menjadi soleh dan solehah.
Semoga jeritan kemiskinanmu terdengar.
Semoga mereka mengerti, betapa sulitnya hidup ini.
Dan satu kali lagi, semoga hobi kita berganti, bukan lagi menghakimi.
Setiap ibu, ia dilahirkan untuk dikagumi dengan keluarbiasaannya-walaupun ia-penyanyi dangdung-atau pekerja prostitusi









































Tidak ada komentar:

Posting Komentar