Saya sebenarnya tidak begitu senang
ketika memperbincangkan tentang wanita, entar saya di sebut feminis radikal
lagi (lelah aku bang!)
Tapi saat ini, hati saya tertarik
untuk menulis tentang Almarhumah irma bule, latar belakang penulisan ini adalah
karena ketika ada yang menyebut namanya, komentar yang akan saya dengar dari
telinga beranting ini, ga jauh-jauh dari:
“ya Tuhan, meningalnya saja lagi goyang, gimana di akhiratnya”
“kaya ga ada pekerjaan yang lain aja”
“itu
mah balesan dari Tuhan gara-gara dia mencari uang dengan jalan yang tidak
diridhoi”
Dan ini menimbulkan kesimpatian saya
menaik tajam padanya.
Beliau, dianggap wanita yang
gampangan-bakal masuk neraka-dan lain-lain yang berupa penghakiman tanpa
pengadilan, atau mungkin sebenarnya masyarakat kita mempunyai cita-cita hakim
yang tak tercapai karena kemahalan untuk menjadi hakim.
Ya Tuhan maafkanlah suudzon hambaMu yang melewati batas ini.
Mungkin saja, kita lupa, atau malah kita tak pernah membacanya kali
ya?
Dalam kitab Majalisutsaniyah diceritakan, terdapat laki-laki yang
pernah zina, namun ternyata masuk Surga, terdapat perempuan yang dianggap baik
oleh masyarakat namun ternyata masuk Neraka.
Ouh, betapa kita ternyata sudah tak memakai kembali jas merah kita.
Dengan pengamatan tak teliti saya, Kayanya kita ga pernah ngambil
sisi positiv dari sebuah berita atau Kayanya media kita juga ga pernah
memberitakan kalau mungkin saja Almarhumah itu:
1.
Ibu
yang berjuang buat anak-anaknya yang berjumlah 3 orang dan masih kecil-kecil,
bayangkan, 60 % warga Karawang berada di garis kemiskinan (2014) dan mungkin
beliau menjadi salah satunya.
Mungkin saja sebenarnya ini adalah cara jihad beliau agar
pemerintahan tau, dan mengekspos betapa miskinnya warga Kerawang
bukan?sampe-sampe krupuk Mlarat yang memiliki arti miskin pun bersumber dari
Kota ini lho.
Beliau itu rela berjoget walaupun udah digigit ular kobra, rela
dipegang sama kake-kake tua, rela dianggep wanita murahan cuma buat uang
500 rbu. Apa ada yang mau kecuali orang
yang benar-benar membutuhkan uang itu?
2.
Istri
yang berusaha membantu suaminya yang hanya seorang buruh yang kesulitan mencari
pekerjaan.
Di karawang, tingkat pengangguran makin tinggi sejak tahun 2009,
dan itu mungkin membuat Almarhumah Irma Bule ini memutar otak untuk membantu
suaminya yang kesulitan dalam mencari pekerjaan
Karena menjadi Guru saja saat ini, harus sogok sana sogok sini yang
pasti membutuhkan uang banyak*ups.
3.
Penjoget
yang mungkin bermimpi untuk menjadi istri pejabat.
Yang tanpa jogetpun, tanpa dianggep murahanpun, tanpa
dipegang-pegang kake tuapun, tanpa menjadi TKIpun (yang menurut data, Karawang
menjadi pemasok TKI terbanyak ke-7) bisa jalan-jalan keluar negeri dengan
membawa tas harga puluhan jutaa, dan tidak tertarik untuk mengirim bunga kepada
rakyatnya yang sedang berduka karena
kekejaman wilayahnya.
Tapi kemudian, saat saya berdiskusi tentang beliau, terdapat
pertanyaan, jika memang miskin, mengapa harus menjadi seorang pelacur?
Ternyata, kebanyakan dari kita lupa, bahwa kebenaran itu selalu
relatif.
Selamat jalan Kartini Karawang,
semoga anak-anak mu menjadi soleh dan solehah.
Semoga jeritan kemiskinanmu terdengar.
Semoga mereka mengerti, betapa sulitnya hidup ini.
Dan satu kali lagi, semoga hobi kita berganti, bukan lagi
menghakimi.
Setiap ibu, ia dilahirkan untuk dikagumi dengan
keluarbiasaannya-walaupun ia-penyanyi dangdung-atau pekerja prostitusi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar