Kesakitan yang mendatangkan
hikmah
Dulunya aku
selalu bertanya, apakah memang benar ada? Kesakitan yang membawa hikmah, karena
jika aku melihat sepintas pengalaman kesakitanku, itu semua menghadirkan air
mata dann jiwa yang kian hari kian melemah.
Tapi ternyata aku lupa, dan itu
diingatkan, dikejadian saat ini, di rumahku.
Adikku, dia
masih kelas 5 SD, setiap malam saat bulan Romadhon, ia menginap di rumah
sepupuku, bukan karena kami tidak mencintainya dan ia tak betah, bukan. Tapi
karena di rumah ku tidak ada anak seusia dia, dan akhirnya ia harus plonga
plongo ketika berada di rumah. Juga karena, di desa sepupuku yang jaraknya
sangat dekat dengan rumahku itu mengadakan obrog setiap malam, itu alasan utama
dia.
Suatu malam,
sepupuku menelpon,katanya adikku masih bermain di jondol, dan saat itu sudah
jam setengah 12 malam, alhasil ibuku langsung menyuruh kaka pertamku untuk
menyusulnya dan mengajaknya pulang.
Dia menangis
di rumah, sambil berkata:jaree oli melu obrog, tapi kien bloli, wis dawuk je
bobad bae, ngajari anake je bobad bae, wis loh kitae tinggale ning Beber bae,
yang artinya: katanya boleh ikut obrog, tapi sekarang ga boleh, udah besar kok
boong aja, ngajarin anaknya boong, udahlah ku tinggalnya di Beber aja.itu
sontak membuat ku tertawa di dalam kamar, karena ku tau, ketika anak kecil
menangis itu tak lebih lama dari menonton satu filem.
Tapi itu
berbalik terbalik, mamah ku seperti ingin menangis mendengar kata-kata Adik ku,
aku yakin, saat itu keduanya, baik adikku maupun mamahku sama-sama tersakiti,
bahkan aku pun yang kini mengetahui mamahku bersedih ikut tersakiti, namun juga
aku yakin, itu semua memiliki hikmah yang cukup besar. Mamahku menjadi lebih
erhatihati ketika berbicara, dan adikku akan lebih penurun.
So kamu, atau kita yang tengah
tersakiti, jangan suudzon, Tuhan ingin kita belajar lebi banyak J
Cirebon, 28 jun 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar