Senin, 27 Juni 2016

kesakitan yang berhikmah



Kesakitan yang mendatangkan hikmah
Dulunya aku selalu bertanya, apakah memang benar ada? Kesakitan yang membawa hikmah, karena jika aku melihat sepintas pengalaman kesakitanku, itu semua menghadirkan air mata dann jiwa yang kian hari kian melemah.
Tapi ternyata aku lupa, dan itu diingatkan, dikejadian saat ini, di rumahku.
Adikku, dia masih kelas 5 SD, setiap malam saat bulan Romadhon, ia menginap di rumah sepupuku, bukan karena kami tidak mencintainya dan ia tak betah, bukan. Tapi karena di rumah ku tidak ada anak seusia dia, dan akhirnya ia harus plonga plongo ketika berada di rumah. Juga karena, di desa sepupuku yang jaraknya sangat dekat dengan rumahku itu mengadakan obrog setiap malam, itu alasan utama dia.
Suatu malam, sepupuku menelpon,katanya adikku masih bermain di jondol, dan saat itu sudah jam setengah 12 malam, alhasil ibuku langsung menyuruh kaka pertamku untuk menyusulnya dan mengajaknya pulang.
Dia menangis di rumah, sambil berkata:jaree oli melu obrog, tapi kien bloli, wis dawuk je bobad bae, ngajari anake je bobad bae, wis loh kitae tinggale ning Beber bae, yang artinya: katanya boleh ikut obrog, tapi sekarang ga boleh, udah besar kok boong aja, ngajarin anaknya boong, udahlah ku tinggalnya di Beber aja.itu sontak membuat ku tertawa di dalam kamar, karena ku tau, ketika anak kecil menangis itu tak lebih lama dari menonton satu filem.
Tapi itu berbalik terbalik, mamah ku seperti ingin menangis mendengar kata-kata Adik ku, aku yakin, saat itu keduanya, baik adikku maupun mamahku sama-sama tersakiti, bahkan aku pun yang kini mengetahui mamahku bersedih ikut tersakiti, namun juga aku yakin, itu semua memiliki hikmah yang cukup besar. Mamahku menjadi lebih erhatihati ketika berbicara, dan adikku akan lebih penurun.
So kamu, atau kita yang tengah tersakiti, jangan suudzon, Tuhan ingin kita belajar lebi banyak J

Cirebon, 28 jun 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar