Suatu ketika, saya pernah ditanyai teman saya, katanya mengapa kita
harus mengikuti salah satu organisasi Agama, mengapa kita tidak dalam satu
Islam saja?
Rasanya saat itu juga, sebagai Nahdliyyin, saya ingin mengungkapkan
alasannya, selain juga karena saya dilahirkan di keluarga yang mayoritas NU
(alasan pertama), saya ingin mereka tau betapa mengharukannya bernyanyi
bersama-sama dengan satu irama “marhaban ya nurul aini, marhaban
marhaban,marhaban jaddal husaini, marhaban marhaban”, Atau betapa enaknya
berteriak “Allahu solu alaih” saat solat tarawih seperti yang dikatakan oleh @ubegebe1
Tidak ada alasan muluk-muluk saya mengikuti NU, karena sebenarnya
saya juga bisa mengikuti Muhammadiyyah, Persis, Islam saja atau yang lainnya, Tidak
ada yang salah sebenarnya dalam semua itu kan?
Toh kita setiap selesai
Sholat Fardu selalu berdo’a ”Allahumma inna nas’aluka salamatan fiddin” yang
berarti “ya Allah kita meminta keselamatan dalam agama”, moso to Allah gak
ngabulin doa hamba-Nya.
Tapi yang pasti kita harus
menjadi Tabi’ ketika mengikuti itu semua (mengikuti karena mengetahui alasan)
bukan menjadi taqlid (mengikuti tanpa mengetahui alasan) ,seperti yang sudah
dijelaskan pula dalam kitab Talim Mutaalim karya Syekh Az-Zarnuji, wajib loh menjadi
Tabi’, apalagi dalam Tauhid, harus
mengetahui dalil naqli dan dalil aqlinya pula, toh itu juga sejalan dengan para
dosen terhormat kita ketika memberi tugas harus dengan referensi yang baik agar
dapat di pertanggung jawabkan, bukan dengan bertanya pada Syekh google yang
tidak jelas sumber dan masih mungkin salah.
Semoga kita bukan termasuk orang yang meminta Kekhalifahan di dunia
ini tanpa mengetahui gaya Kekhalifahan siapa, atau menggunakan gamis kengser
dan terkena najis dan dipakai untuk solat#ehh ehh, intine kita harus tau
sebab-alasan-latar belakang dari segala sikap-tingkah laku-perkataan kita
Ada satu yang membuat saya sedih sebenarya dalam periode Reformasi
ini, yaitu ketika terdapat dari kita sudah tidak adil dalam fikiran.
Contohnya, saya pernah mendengar katanya Kyai NU mengambil hukum
dengan subjektif, seperti permasalahan rokok.
juga katanya kebanyakan para wanitanya menggunakan krudung pendek yang
tidak kaffah.
Tapi semoga kita jua sama-sama tau sebelum berkata-katanya itu,
bahwa di Bandung terdapat Pondok Pesantren yang santri-santrinya menggunakan
cadar dan kerudung besar yang mereka juga suka untuk berziarah kubur, maulidan,
dan tidak mengharamkan rokok, juga semoga kita sama-sama tau bahwa Gus Dur juga
bukan perokok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar