Rabu, 22 Juni 2016

NU



Suatu ketika, saya pernah ditanyai teman saya, katanya mengapa kita harus mengikuti salah satu organisasi Agama, mengapa kita tidak dalam satu Islam saja?
Rasanya saat itu juga, sebagai Nahdliyyin, saya ingin mengungkapkan alasannya, selain juga karena saya dilahirkan di keluarga yang mayoritas NU (alasan pertama), saya ingin mereka tau betapa mengharukannya bernyanyi bersama-sama dengan satu irama “marhaban ya nurul aini, marhaban marhaban,marhaban jaddal husaini, marhaban marhaban”, Atau betapa enaknya berteriak “Allahu solu alaih” saat solat tarawih seperti yang dikatakan oleh @ubegebe1
Tidak ada alasan muluk-muluk saya mengikuti NU, karena sebenarnya saya juga bisa mengikuti Muhammadiyyah, Persis, Islam saja atau yang lainnya, Tidak ada yang salah sebenarnya dalam semua itu kan?
 Toh kita setiap selesai Sholat Fardu selalu berdo’a ”Allahumma inna nas’aluka salamatan fiddin” yang berarti “ya Allah kita meminta keselamatan dalam agama”, moso to Allah gak ngabulin doa hamba-Nya.
 Tapi yang pasti kita harus menjadi Tabi’ ketika mengikuti itu semua (mengikuti karena mengetahui alasan) bukan menjadi taqlid (mengikuti tanpa mengetahui alasan) ,seperti yang sudah dijelaskan pula dalam kitab Talim Mutaalim karya Syekh Az-Zarnuji, wajib loh menjadi Tabi’, apalagi  dalam Tauhid, harus mengetahui dalil naqli dan dalil aqlinya pula, toh itu juga sejalan dengan para dosen terhormat kita ketika memberi tugas harus dengan referensi yang baik agar dapat di pertanggung jawabkan, bukan dengan bertanya pada Syekh google yang tidak jelas sumber dan masih mungkin salah.
Semoga kita bukan termasuk orang yang meminta Kekhalifahan di dunia ini tanpa mengetahui gaya Kekhalifahan siapa, atau menggunakan gamis kengser dan terkena najis dan dipakai untuk solat#ehh ehh, intine kita harus tau sebab-alasan-latar belakang dari segala sikap-tingkah laku-perkataan kita
Ada satu yang membuat saya sedih sebenarya dalam periode Reformasi ini, yaitu ketika terdapat dari kita sudah tidak adil dalam fikiran.
Contohnya, saya pernah mendengar katanya Kyai NU mengambil hukum dengan subjektif, seperti permasalahan rokok.  juga katanya kebanyakan para wanitanya menggunakan krudung pendek yang tidak kaffah.
Tapi semoga kita jua sama-sama tau sebelum berkata-katanya itu, bahwa di Bandung terdapat Pondok Pesantren yang santri-santrinya menggunakan cadar dan kerudung besar yang mereka juga suka untuk berziarah kubur, maulidan, dan tidak mengharamkan rokok, juga semoga kita sama-sama tau bahwa Gus Dur juga bukan perokok.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar