Tentang
Gender,Patriarki,Dan Misoginis
Awalnya saya pun tidak tertarik dengan ini
semua,saya kira perempuan modern saat ini pun sudah mendapatkan jatah yang wah
di masyarakat,presiden pun pernah kok seorang perempuan.
Namun itu semua berbanding terbalik saat saya mengikuti workshop di hari ibu tahun
2015,tentang peran ibu di masyarakat,saya pun menyadari banyak yang dianggap
sebagai kodrat bagi seorang perempuan,padahal bukan.seperti memasak,mengasuh
anak,menyuci dan hal-hal lain yang biasa diwajibkan pada lebel perempuan.
Itu semua ternyata salah,ternyata kodrat
adalah sesuatu yang tak bisa diub ah oleh manusia,seperti mellahirkann dan
lain-lain.bahkan Allah menjelaskan dalam surat al-baqarah bahwa menyusui pun
bukan sebuah kodrat,bahwa mengasuh anak buukan hanya tugas seorang ibu,tapi
tugas keduanya,(orang tua),bahkan ternyata tugas seorang ayah yang ternyata
mencari nafkah adaalah termasuk didalamnya mencuci,memasak dan membereskan
rumah,karena toh itu semua juga termasuk nafkah?
Namun saat ini,masyarakat kita banyak yang
menyalah artikan itu semua,jika seoranng anak nakal,maka yang dipertanyakan
hanya ibunya,bagaimanakah ibunya?jika dirumah tidak ada makanan,maka yang
dipertanyakan juga ibunya,sedang apakah ibunya?bagaimana jika ternyata sang ibu
juga bekerja?ya tetap,yang salah itu ibunya.pokoe wadon lah.
Sedihnya lagi, saat ini,perempuan tidak
diperkenankan unuk mendapatkan jabatan
yang tinggi,ketika masih ada laki-laki disana,walaupun perempuan it mempunyai
banyak bakat dan kemampuan diatas laki-laki,seperti contoh nyata dikampus
saya,tidak diperkenankan seorang wanita menjadi dekan,apalagii rektor.perempuan
yang sudah pantas diberi gelar profesor pun tidak mendapatkannya jika masih ada
laki-laki yang pantas jua.sangat menyedihkan.
Inilah budaya kita,budaya
Patriarki,mengedepankan laki-laki untuk segala sesuatu.karena baanyaknya
misoginisyang menganggap wanita Cuma bekerja di sumur dapur dan kasur,maka mari
perjuangkan gender,setidaknya,agar ketika ada anak yang nakal bukan hanya
kesalahan ibu,juga setidaknya,ketika kita bekerja dann harus puulang malam
memiliki keamanan bagai lelaki.
Jadi sebenarnya,apakah budaya tetap harus
dijaga?jika budaya itu ternyata budayya
patriarki?
10
januari 2016,cirebon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar