Kamis, 23 Juni 2016

Pragmatis, Realistis, dan Pesimis?



                Awalnya diriku(awal kuliah), adalah seorang fighter , aku selalu mencoba melakukan sebaik yang kubisa, dan akhirnya nilaiku mendekati sempurna, hanya 2 mata kuliah dengan nilai B, sisanya adalah nilai terbaik. Bagiku itu adalah permulaan yang cukup baik, dan aku positive thingking bahwa aku bisa mempertahankannya, walaupun di tengah-tengah perbincangan kaka tingkat yang mengatakan bahwa semakin naik semester berarti semakin naik pula kesulitan untuk mendapat nilai sempurna.
                Liburan pun tiba, aku menyaksikan kehidupan realita di depan mata, tentang kaka-kaka ku yang tak mau aku bujuk kuliah, tentang pengangguran dan klantang-kluntungku di rumah, tentang hari-hari yang selalu aku tanyakan manfaatnya.
                Kemudian tibalah semester selanjutnya, aku memulainya dengan target mempertahankan nilai. di awal Mata Kuliah Psikologi Kepribadian, aku bertanya:apakah fungsi kita mempelajari Kepribadian manusia, padahal ujung dari cita-cita dan profesi kita adalah Psikolog, yang nantinya bukan untuk meramal kepribadian orang-orang yang dekat dengan kita, tapi menyelesaikan masalahnya? Dan apa pula fungsi mempelajari itu ketika aku sudah dirumah? Dan itu menimbulkan jawaban yang sudah aku tebak: untuk mempermudah pencarian solusi masalah. Aku mengeluh dengan jawaban itu, dan aku berubah menjadi pragmatis dalam setiap mata kuliah, aku selalu bertanya: untuk apa?
                Setelahnya, aku menceritakan ke pragmatisan ku pada sahabat-sahabat dekat di kampus, namun itu semua bukan berujung dengan jawaban, akan tetapi berujung pada penularan pragmatisku, mereka juga menanyai: untuk apa?. Dan itu semua membuatku melambung, sekaligus membuatku menjadi seorang filosof mata kuliah.
                Akhir semesterpun kembali tiba, disaat aku melihat hasil studiku, aku tercengang, sekaligus sudah mempersiapkannya. Nilai ku turun, kini hanya 6 mata kuliah yang bernilai terbaik, sisanya puas dengan huruf B. Akhir semester itu juga menjadi awal dari keinginanku untuk pindah jurusan, mengawali hari dengan tujuan dan alur yang pasti, bukan dengan mempelajari hal-hal yang akupun ak tau akan berguna tidak.
                Disaat liburan, aku membaca salah satu buku, yang kini berhasil merubah pikiranku.
Ternyata aku picik,
Aku pragmatis, menanyai setiap kehidupan dengan kata yang sama: untuk apa?
Aku realistis, tapi ternyata realistis itu menjauhkan ku dari mimpi-mimpi yang siap diimajinasikan dan mendekatkanku pada pesimistis yang tingi.


Hai ty, orang seperti dirimu tak memiliki apapun selain mimpi!
Bermimpilah, jelajahilah Eropa, Timur tengah, China, Afrika!
Kita tak pernah dapat mendahului nasib ty, tak pernah bisa mendahului Allah.
Hilangkan pragmatismu itu, lakukan yang terbaik ty.
Jangan jadikan realistismu menjadi bagian dari pesimistis

*note:
yang kita butuhkan adalah orang-orang yang mampu memimpikan sesuatu yang tidak pernah diimpikan oleh orang lain-John F Kennedy
seluruh kesulitan dalam kehidupan ini adalah bagian dari suatu tatanan yang sempurna dan sifat yang paling pasti dalam tatanan tata surya ini-Pierre Simon de Laplace




 24 jun 2016, di Rumah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar