Awalnya
diriku(awal kuliah), adalah seorang fighter , aku selalu mencoba melakukan
sebaik yang kubisa, dan akhirnya nilaiku mendekati sempurna, hanya 2 mata
kuliah dengan nilai B, sisanya adalah nilai terbaik. Bagiku itu adalah
permulaan yang cukup baik, dan aku positive thingking bahwa aku bisa
mempertahankannya, walaupun di tengah-tengah perbincangan kaka tingkat yang
mengatakan bahwa semakin naik semester berarti semakin naik pula kesulitan
untuk mendapat nilai sempurna.
Liburan
pun tiba, aku menyaksikan kehidupan realita di depan mata, tentang kaka-kaka ku
yang tak mau aku bujuk kuliah, tentang pengangguran dan klantang-kluntungku di
rumah, tentang hari-hari yang selalu aku tanyakan manfaatnya.
Kemudian
tibalah semester selanjutnya, aku memulainya dengan target mempertahankan nilai.
di awal Mata Kuliah Psikologi Kepribadian, aku bertanya:apakah fungsi kita
mempelajari Kepribadian manusia, padahal ujung dari cita-cita dan profesi kita
adalah Psikolog, yang nantinya bukan untuk meramal kepribadian orang-orang yang
dekat dengan kita, tapi menyelesaikan masalahnya? Dan apa pula fungsi
mempelajari itu ketika aku sudah dirumah? Dan itu menimbulkan jawaban yang
sudah aku tebak: untuk mempermudah pencarian solusi masalah. Aku mengeluh
dengan jawaban itu, dan aku berubah menjadi pragmatis dalam setiap mata kuliah,
aku selalu bertanya: untuk apa?
Setelahnya,
aku menceritakan ke pragmatisan ku pada sahabat-sahabat dekat di kampus, namun
itu semua bukan berujung dengan jawaban, akan tetapi berujung pada penularan
pragmatisku, mereka juga menanyai: untuk apa?. Dan itu semua membuatku
melambung, sekaligus membuatku menjadi seorang filosof mata kuliah.
Akhir
semesterpun kembali tiba, disaat aku melihat hasil studiku, aku tercengang,
sekaligus sudah mempersiapkannya. Nilai ku turun, kini hanya 6 mata kuliah yang
bernilai terbaik, sisanya puas dengan huruf B. Akhir semester itu juga menjadi
awal dari keinginanku untuk pindah jurusan, mengawali hari dengan tujuan dan
alur yang pasti, bukan dengan mempelajari hal-hal yang akupun ak tau akan
berguna tidak.
Disaat
liburan, aku membaca salah satu buku, yang kini berhasil merubah pikiranku.
Ternyata aku picik,
Aku pragmatis, menanyai setiap
kehidupan dengan kata yang sama: untuk apa?
Aku realistis, tapi ternyata
realistis itu menjauhkan ku dari mimpi-mimpi yang siap diimajinasikan dan
mendekatkanku pada pesimistis yang tingi.
Hai ty, orang seperti dirimu tak
memiliki apapun selain mimpi!
Bermimpilah, jelajahilah Eropa,
Timur tengah, China, Afrika!
Kita tak pernah dapat mendahului
nasib ty, tak pernah bisa mendahului Allah.
Hilangkan pragmatismu itu,
lakukan yang terbaik ty.
Jangan jadikan realistismu
menjadi bagian dari pesimistis
*note:
yang kita butuhkan adalah
orang-orang yang mampu memimpikan sesuatu yang tidak pernah diimpikan oleh
orang lain-John F Kennedy
seluruh kesulitan dalam kehidupan
ini adalah bagian dari suatu tatanan yang sempurna dan sifat yang paling pasti
dalam tatanan tata surya ini-Pierre Simon de Laplace
24 jun 2016, di Rumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar